Silaturahmi ke Prof. Dr. Ir. Suwarno (Part 1 – Jepang, Sebuah Perjuangan)

Bismillah..

====================================================

09/11/2014.

Berkumpulah para aktivis Masjid Salman ITB yang terdiri dari penghuni Asrama putra/i Salman ITB, Aktivis BMK, Rumah Sahabat, dan Student Center di depan ruang sekretariat Badan Mahasiswa dan Kaderisasi menunggu instruksi untuk keberangkatan menuju kediaman Mas Suwarno (Dekan STEI ITB, Ka Bidang Dakwah Masjid Salman ITB).  Mobilisasi keberangkatan ada yang menggunakan sepeda motor yang mayoritas adalah penghuni Asrama Putera Salman ITB dan menggunakan mobil angkutan umum “carteran”.

Baru sekitar 500 meter dari Masjid Salman ITB, kami (pengendara motor) disambut oleh ribuan ‘Bobotoh’ yang sedang pawai syukuran atas juaranya tim Persib Bandung dalam laga ISL kemarin.  Dengan segala kemacetan yang dihadapi, para pengendara motor baru tiba ke rumah Mas Suwarno sekitar pukul 13.50.

Masuk ke gerbang rumah tersebut, kami disambut oleh Mas Suwarno lalu kami diantarkan masuk menuju ruang tamu dan ruang makan (foto tidak disertakan demi menjaga kerukunan bersama).  Para pengendara motor pun istirahat sambil makan makanan yang disediakan.  Tak lama kemudian, datanglah Mas Agung Wiyono dan Istri dengan menggunakan mobil.  Setelah mereka mengambil makanan, agenda Usrah di kediaman Mas Suwarno pun dimulai.

IMG_3346Beliau menyampaikan tentang Lack of Humanity yang dimiliki para lulusan ITB yang berada baik di dalam negeri maupun luar negeri (semoga kita tidak termasuk di dalamnya).  Beliau juga menceritakan bagaimana sulitnya menjadi seorang muslim ketika berada di lingkungan minoritas.

Ketika di Jepang, beliau bercerita semasa kuliah ada agenda kuliah bahasa jepang yang jadwalnya bertepatan dengan agenda Shalat Jumat (sekitar pukul 9-12, sedangkan shalat jumat berlangsung mulai pukul 11.00 waktu setempat, katanya).  Beliau awalnya meminta izin kepada dosen tersebut untuk izin meninggalkan kelas.  Sang dosen pun jelas tidak terima dan melarang Mas Suwarno untuk meninggalkan ruangan guna melaksanakan Shalat Jumat.  Namun, Mas Suwarno tetap meminta untuk izin tidak mengikuti kuliah tersebut dan berjanji akan mempelajari materi yang diajarkan sendiri.  Dengan berbagai pertimbangan, dosen tersebut mengizinkan Mas Suwarno saja (di sana ada sekitar 5 mahasiswa muslim lainnya) untuk melaksanakan sholat Jumat.

Seiring berlalunya waktu, datanglah waktu ujian mata kuliah tersebut.  Alhamdulillah, komitmen Mas Suwarno kepada dosen tersebut pun tercapai.  Mas Suwarno mendapatkan nilai mata kuliah tersebut dengan baik bahkan lebih baik dibandingkan mahasiswa muslim lainnya yang tidak melaksanakan sholat Jumat.  Dosennya pun memberikan respect kepada Mas Suwarno.  Lama kelamaan, dosen tersebut memberikan izin kepada sempat mahasiswa muslim lainnya untuk sholat Jumat bersama Mas Suwarno.  Lanjut lagi, ternyata Dosen tersebut terketuk hatinya untuk memberikan pelajaran tambahan kepada Mas Suwarno dan kawan-kawannya yang izin waktu kuliah karena harus melaksanakan Shalat Jumat.

Maa Syaa Allah …

Semoga kita bisa mengambil hikmah dibalik cerita tersebut

In Syaa Allah berlanjut.

====================================================

Inilah cara ninjaku !!!

Dengan langkahku, aku melewati air yang menggenang akibat hujan sore itu.

Dengan menjinjing celana cokelat serta menjinjit, seolah aku enggan sekali bila celanaku terkena percikanya.

Kupercepat langkah, nafas ku ter-engah

Langkahku memelan, mataku melihat suatu keadaan, yang memecah perhatianku

[ ada sekumpulan saudaraku seiman, yang berkumpul dan masih berkumpul membahas sesuatu ]

[ mereka bersikukuh dengan apa yang namanya “solidaritas”, dimana yang sering berkumpul, ialah yang memiliki peluang lebih besar untuk didengar ]

[aku sadar kok, jika aku jarang sekali duduk bareng setikar sebangku denganmu saudaraku,

aku sadar jika aku yang paling sering meminta izin ketika audiensi-audiensi karena “sesuatu”(amanah)

aku sadar jika kesibukan kita berada dalam percabangan saling menjauh]

Kuhampiri engkau, ku ucap salam sembari menyuguhkan senyum, “kang, punten, saya masih ada ini dan itu ….”,

Dengan kedatanganku, apakah aku mengganggu “ewes-ewes mu”? apa yang menjadi bahasan mu sejauh ini saudaraku? Tatapanmu dingin, seolah aku seperti hujan yang datang tiba-tiba saat begitu banyaknya pembeli es yang mengantri di bawah mentari yang panas. Dan pemandangan inilah yang sering aku mengerti.

Saat ini, aku seolah tak mempunyai wadah untuk bergaul tanpa sekat denganmu saudaraku.., maklum, aku sering alfa disetiap pertemuan kita atau mungkin karena caraku bergaul yang aneh menurutmu. Mungkin, aku merasa sendiri saat ini, walau tujuh puluh darimu berada disekelilingku. Engkau berkarya yang macam-macam bentuknya, engkau lebih sigap dan ahli dariku. Apa kau tahu? Jika aku juga ingin sekali berkaya sepertimu? jika sesjujurnya aku ingin mendapatkan kesempatan untuk beramal sepertimu? Apa kau tahu??

jumat lusa, aku kecewa…. mengapa aku berada dalam kesibukan yang berbeda saudara-saudaraku. Saat ini, justru rasa syukur ku karena RabbKu yang menjadikanku sibuk dalam urusan-urusan kecil namun aku berharap lebih jauh bermakna dan bermanfaat. IA menyadarkanku, jika urusanku di dunia ini bukan untuk ewes-ewes hal-hal yang kurang perlu, bukan untuk melamun memikirkan si anu, atau ngegosip peraturan yang dibuat ketua-ketua baru. Silakanlah berkarya, aku bangga padamu, muda-mudahan Allah membimbing kita. Urusanku adalah memakmurkan bumi, menjadikanya lebih berwarna, dan menyuguhkan islam yang rahmatallila’lamin.. aku tahu, ini begitu berat, dan apa yang aku lakukan dipastikan takkan mampu jika bukan karena KuasaNya, oleh karena itu, aku pantaskan diriku terlebih dahulu, kiranya tiba giliranku, aku telah siap, amanah apapun yang diberikan kepadaku.

Inilah cara ninjaku !!!!!!!!!

22:21 Mihrab-7 November 2014

cerita ini bersumber dari berbagai keadaan yang berusaha penulis sajikan, merupakan cerita fiksi yang masih dalam proses tahap pembelajaran menyajikan bentuk tulisan yang baik dan menarik..

“Duhai Rabbi… Aku berlindung dari lisan atau perkataan yang sia-sia dan menimbulkan fitnah”

Mau Kelaut? Kelaut ajaaa

Asrama. Aku merasakan sesuatu yang jauh berbeda dan berkesan dari asrama-asrama yang telah aku huni bahkan mungkin asrama yang akan datang. Memang, tiap-tiap asrama mempunyai cara yang berbeda untuk membentuk diri manusia didalamnya. Dengan berbagai bentuk macam kegiatan maupun pengkaderan yang akan menyatu dari dalam diri manusia yang tulus menerima sebagai bahan pembelajaran. Ya asrama kita tercinta, Astra Salman ITB ( ASITeB ..sebutku dalam note) | ( Bagi yang menerima? Dengan tulus? Bagi yang tidak Gimana?? harus menerima?? )
Tidak jauh denganya (ASiTeB), aku kuliah di salah satu kampus cukup kokoh tiang penyangganya, kampus unggul menurutku, Walaupun didalam pendapat terdapat sejuta kesalahan, atau mata seringkali menipu, kampus itu (ITB) tetap menjadi kampus terbaik menurutku. memang wajar jika aku mengunggulkan kampusku diatas kampus-kampus yang ada seperti aku lebih mencintai adik kandungku daripada kawanku sendiri. Sama-sama cinta namun entah, frekuensinya berbeda “Cinta diatas cinta” terlepas dari cinta kepada Sang Maha Pencipta. Begitulah bahasa alaynya \^.^/
Aku datang dari suatu dusun didaerah timur pulau jawa dengan membawa harapan. Hanya harapan. Selebihnya ialah doa dan usaha. Tak semudah yang diucapkan memang. Begitu banyak gejolak yang terjadi dari dalam hati hingga lingkungan. Sempat terbersit firasat pecundang “apakah aku bisa menjalaninya tanpa suka?”. Entahlah, dulu, ini salah tangankukah yang memencet tombol fakultas/sekolah itu dilayar computer 2 tahun yang lalu, atau ini memang ketentuan Allah yang Maha Tahu, mana yang cocok untukku walaupun aku enggan mengakuinya (pilihan-Nya).
Satu semester berlalu, dikatakan telah belajar? -Masih setengah-setengah. Dikatakan telah berjuang? -semakinlah ciut tak karuan, kenapa? Ya, terlalu banyak pejuang yang lebih tangguh yang siap habis untuk menggelontorkan kaum-kaum “pupuk bawang”.
“Mau menyerah? KELAUT AJA!!!..”Tapi, nyatanya aku tidak rela jika diriku terkatung-katung dalam hempasan ombak yang menampar-nampar.

Bandung 6 November 2014

Masa Tua Kita, Kelak Dimana?

20140527_112004 Bismillah.

27 Mei 2014, Penghuni Asrama Salman ITB 2013/2014 berkunjung ke Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi, Bandung. Panti sosial ini dihuni oleh 28 nenek dan beberapa pengurus panti. I know it’s too late.. A very late story to tell. Tapi tidak mengapa, karena kisah lama, bisa jadi baru kita petik hikmahnya sekarang. Ya, sekarang.

 

 

 

***

Masa Tua Kita, Kelak 20140527_112022Dimana?

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang kudapati setelah berkunjung ke panti jompo. Setiap orang mempunyai jatah umurnya masing-masing. Dan jika masa tua kita alami, kiranya kelak dimana kita menjalani hari-hari? Di rumah, sendiri, dan anak-anak kita berada di luar kota, sibuk mengurus ini itu. Atau bahkan di panti, karena mereka tidak sanggup merawat kita dan menitipkan kita ke tempat berkumpul orang-orang tua. Atau kita dirumah, dan anak-anak kita silih berganti menemani kita. Mereka memahami kewajibannya sebagai anak, untuk merawat kita, saat kita sudah beranjak tua, pikun dan semakin seperti kanak-kanak.
Masa Tua Mereka, Kelak Dimana?
Sekarang pertanyaannya kita balik. Mari kita ajukan pertanyaan sama namun kita berperan sebagai anak. Kita adalah anak orang tua kita, ada diantara kita adalah anak tunggal, anak pertama, anak bungsu, anak perempuan satu-satunya, anak laki-laki satu-satunya dan lain-lain. Mari bertanya sejenak, saat ini bagaimana kabar ibu dan ayah? Bagaimana kabar hubungan kita dengannya? Hangatkah? Atau dingin? Dekatkah atau jauh?

Kita mungkin tidak menyadari, bahwa hari demi hari berlalu, kita sibuk dengan segala macam hal. Kita tidak menyadari, bahwa berlalunya hari demi hari, juga berarti kedua orang tua yang semakin tua. Wajah mereka tidak sesegar seperti sewaktu dulu kita digendong, di antar ke sekolah. Wajahnya kini mulai dipenuhi lekukan-lekukan. Rambut mereka kini tidak sehitam sewaktu kita diajari mereka membaca, mengaji alif ba ta tsa. Rambutnya kini mulai didominasi warna putih dan kelabu.

Dan saat itu terjadi.. Bagaimana sikap kita? Dan jika waktu terus berlalu, mereka semakin menua, dan sedikit demi sedikit kemampuannya menjadi lemah. Matanya mulai tidak bisa melihat sejernih saat ia melihatmu masuk SMA favorit. Telinganya, mulai tidak bisa mendengar getaran gelombang suara yang terlalu lemah. Otaknya mulai tidak bisa mengingat banyak hal. Ia mungkin akan bertanya hal yang sama berkali-kali dalam rentang waktu puluhan detik.

Dan saat itu terjadi. Dimana kelak kita memposisikan mereka? Masihkah mereka menetap di hati kita, sehingga tidak ada sedikit pun sepetik rasa ingin menjauhkan mereka dari kehidupan kita. Adakah saat itu, kita rela tetap berada dekat dengannya, meski ia kini tidak bisa ke kamar mandi sendiri. Kita harus menuntunya, dan merawatnya seperti saat ia merawat kita saat masih bayi?

***

Masa Tua Kita, Kelak Dimana?

Masa Tua Mereka, Kelak Dimana?

Dan sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, mari kita sejenak tadabbur sebuah firman Allah.

QS Al Isra ayat 23

“Over and over again. One thing after the next, after the next, after the next about parents, parents, parents, parents. Just one thing about Allah. And several things about parents. And just imagine how serious this matter is. But still, the thing to appreciate is Allah mention Himself name first. And one of the lesson in that is.. You’re really not gonna be able to be good to your parents if you’re not trully a slave & a worshipper of Allah. If you’re not doing that first part, you’re gonna be failing the next part. So any of you are messing up with your relationship with your parents. What is that tell you? It tells you’re not really slave of Allah yet. You haven’t really done that DO yet. Because the later would be easier for you, if you fulfill the former.” – Nouman Ali Khan

“Berkali-kali. Dari satu hal ke hal berikutnya, berikutnya dan berikutnya tentang orang tua, orang tua, orang tua, orang tua. Hanya satu hal tentang Allah (kalimat pertama ayat 23) . Dan beberapa hal tentang orang tua. Bayangkan betapa pentingnya hal ini. Namun perhatikan, satu hal yang berharga adalah Allah menyebut nama-Nya pertama kali (di awal). Dan salah satu pelajaran dari hal tersebut adalah. Kamu tidak dapat berlaku baik kepada orang tuamu jika kamu belum menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya. Jika kamu tidak melakukan bagian pertama, kamu akan gagal melakukan bagian selanjutnya. Maka siapa pun dari kalian yang hubungan dengan orang tua-mu kacau. Hal itu menunjukkan apa? Hal itu menunjukkan kamu belum menjadi sebenar-benarnya hamba Allah. Kamu belum benar-benar melakukannya. Karena tahap selanjutnya akan lebih mudah untukmu, jika kamu dapat memenuhi tahap sebelumnya.

Ah.. Mungkin sebelum kita bertanya tentang bagaimana hubungan kita dengan orang tua. Sebelum bertanya tentang bagaimana sikap kita selama ini kepada mereka. Mari kita menjawab pertanyaan di bawah ini.

Khaifa imanukunna? Apa kabar iman kita?

Allahua’lam bishowab.

Lisan dan Nikmat

Bismillah ..

Selasa, 4 November 2014.
Seperti biasa, saya yang bertempat tinggal di Asrama Salman ITB ini cenderung untuk berangkat kuliah dengan spare waktu yang mepet waktu kuliah sehingga sampai kelas dengan kondisi dosen sudah berada dikelas.
(FYI, kelas dalam cerita ini berada di 9020, AE3140 Getaran Mekanik).

Proyektor menyala, dosen duduk di bangku dosen depan kelas layaknya hari biasa. Namun, ada sebuah hal baru yang saya amati sangat berbeda dengan hari-hari kuliah biasanya. Terdapat tulisan yang kalau tidak salah bertuliskan seperti ini :
“Saya sedang sehat, tetapi tidak bisa bicara.  Saya akan tetap berusaha mengajar dengan menunjukkan slide.  Saya akan memberikan sebuah tanda ketika saya sudah selesai.  Jika kalian sudah mengerti, silahkan berikan tanda.  Jika ada yang ingin ditanyakan, intrupsi saja.” 

Usut punya usut ternyata beliau mengalami radang tenggorokan sampai suaranya benar-benar hilang.  Beliau lanjut memberikan kuliah.  Sesekali beliau berusaha untuk mengeluarkan kata-kata walau serak tanpa suara.  Terlihat sekali perjuangan beliau sangat ingin menjelaskan dengan sedikit rasa cemas khawatir peserta kuliah tidak mengerti apa yang terdapat pada slide kuliah tersebut.  Beliau juga tetap menggambarkan Free Body Diagram dan solusi sistem persamaan dari suatu sistem getaran di papan tulis.  Kuliah pun tetap berlanjut selama sekitar seratus menit.

Di penghujung kuliah, beliau duduk dan membuka sebuah slide baru.  Kami yang terus memperhatikan beliau pun mengikuti setiap ketik huruf yang keluar di layar.  Tulisan itu bertuliskan poin-poin yang tidak salah seperti ini :

“Dari apa yang saya alami hari ini, ada hal yang benar-benar saya sadari akan adanya nikmat yang terkadang kita lupa untuk syukuri, yaitu nikmat dapat berbicara.  Kita dapat berbicara dengan bebas ketika kita sedang sehat dan baru merasakan rasa syukur dapat berbicara ketika sedang sakit.”

“Kita bernafas dengan gratis.  Cobalah untuk pergi ke rumah sakit.  Di sana, kita akan menemukan orang-orang yang bernafas menggunakan tabung dan berbayar.”

“Udah dulu ya”

“Terima Kasih”

“Anda lebih memperhatikan kalau saya ngajarnya seperti ini.  Tapi jangan doain seperti ini ya.” (Pada saat mengetik ini, peserta kuliah dan sang dosen tertawa kecil melihat tulisan ini)

Peserta pun membalas sang dosen dengan ucapan “terima kasih banyak ya, Pak.”

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Sebuah pelajaran dari integritas dan kerendahan hati seorang dosen yang mengharap ridha-Nya.

Semoga Allah merahmatimu selalu.

Dr. Ir. Muhammad Kusni

IMG_3283

Ditulis oleh :

Muhammad Ihsan

Mahasiswa Aeronotika dan Astronotika ITB 2012

Asrama Putera Salman ITB 2014/2015 kamar 305

Terasa Berat

9710_4058882306821_1675376033_n

 

Bismillaah,

Teruntuk diri, yang masih malas membaca Al-Quran

di antara alasan utama malasnya kita dalam membaca al-quran adalah adanya rasa “berat”, berat saat melamakan sedikit bacaannya, berat saat menambah sedikit jumlah halamannya
benar kan?

bicara masalah berat, agaknya kita perlu sedikit merenungkan, seberat apakah ia?

malam minggu terakhir, ada suatu nasehat yang diri ini terima
dalam beramal, jangan gunakan akal
karena rasanya tidak masuk akal ada orang yang tiap hari bisa bangun pagi untuk tahajud, meluangkan waktu dan tenaganya yang juga telah terkuras habis
rasanya tidak masuk akal setiap hari bisa membaca 10 lembar

tapi, gunakanlah semangat ubudiyah, bahwa kita adalah hamba Allah, bahwa amalan di atas adalah tugas utama kita selama di dunia ini
bahwa dunia, meski ia indah, ia kan sirna seiring berjalan dan berakhirnya waktu
gunakan semangat itu

jika rasanya tilawah itu berat, bayangkan saja, seberat apa tilawah yang hanya beberapa menit, jika dibandingkan dengan 18 jam waktu hidup kita sehari (jika di asumsikan 6 jam untuk tidur)

berat itulah cobaannya, bersabar-sabarlah wahai diri
berat itulah godaannya, maukah engkau kalah dengan godaan syaitan wahai diri?

akhirul kalam,
yang Maha mampu untuk menguatkan kita bersabar-sabar dalam tilawah dan berintaksi dengan Al-quran adalah Allah, mintalah perolongan pada-Nya

Allahu A’lam

Oleh: Ibrahim Musa Ashidiqie, Penghuni 308 Asrama Putra Periode 2013

Seven Habits of ‘Asrama’ Primary

Image

Foto dapur Asrama Putra Salman ITB

sumber : kaderisasi-salman.com

Nyaris 11 Bulan bernaung di Asrama Salman sudah kita rasakan, ada pula yang sudah 22 Bulan. Bahkan ada yang 34 Bulan. Sudah seberapa akrab dengan Asrama? Berikut 7 kebiasaan anak Asrama versi ‘Penulis’ :D, yang kadang terasa berat untuk dilakukan, namun terasa sayang untuk ditinggalkan. 7 hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Adzan Awal

Salah satu yang seharusnya menjadi tanggungjawab anak asrama sebagai pelayan masjid, tidaklah cukup hanya dengan menjadi muadzin ataupun imam pada saat shalat wajib, namun yang akhir-akhir ini sudah mulai terlupakan adalah adzan awal, yang biasa dikumandangkan sekitar satu jam sebelum adzan subuh. Memang jamaah yang sempat mendengarkan tidak sebanyak adzan-adzan biasanya, namun salah satu tujuan dikumandangkannya adzan awal untuk membangunkan lebih tepatnya mengingatkan untuk menunaikan shalat malam. Untungnya, salah satu aktifis salman namun bukan penghuni Asrama (inisial KA), yang sering menggantikan untuk adzan awal.

Bukan kesiangan yang menyebabkan anak asrama jarang mengumandangkan adzan awal, buktinya tidak sedikit yang bangun sebelum tiba fajar, bukan pula karena tidak tahu bagaimana cara mengumandangkan adzan, namun lebih tepatnya kurangnya penyuluhan di awal dan tidak adanya penjadwalan untuk adzan, sehingga anak asrama ‘sepertinya’ belum tahu pasti apakah itu adalah tugas asrama atau bukan.

Teringat saat panglima perang handal yang dikenang keberaniannya, ketaatannya dalam beribadah, pada umur 24 tahun sudah berhasil membangun 200 ribu pasukan, yang menjadi penakluk kota Binzantium atau yang sering dikenal Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih setelah usai menaklukkannya, beliau meminta persetujuan gurunya karena ia berniat mengundurkan diri dari kesultanan. Apa tujuannya? Padahal beliau masih sangat-sangat muda, tentu tidak lain hanya karena Beliau ingin khusuk dan khusuk menikmati ibadah. Namun apa tanggapan sang guru? Akh-Syamsudin memiliki jawaban yang sangat bijaksana, sebagai ahli ilmu Akh-Syamsudin mengatakan “aku tahu nak, kalau kau konsentrasi, fokus beribadah dan meninggalkan kesultanan, maka semua kenikmatan menjadi sultan akan runtuh dihadapan kenikmatanmu beribadah kepada Allah SWT, tetapi nak, keberadaanmu berada dikursi kesultanan jauh lebih bermanfaat bagi orang lain dari pada engkau menikmati sendiri ibadahmu”. Menikmati ibadah sendirian memang lebih khusuk, namun menikmati ibadah dengan orang lain bahkan lebih utama. Yuk, kita ambil nasehat-nasehat yang sudah di ambil oleh Muhammad Al-Fatih, dimana keberadaan kita di Asrama ini bukanlah suatu kesengajaan, namun Allah sudah memberikan kepercayaan kepada kita untuk mengemban Amanah, tidak lain hanyalah sebagai “Pelayan Masjid”.

 

  1. Kerja Bakti Asrama

Ngaku menjadi pelayan jamaah yang baik? Kalau pegang sapu lidi dan sikat WC-nya sendiri aja belum pernah? Wah, parah nih… Nah, salah satu agenda Asrama diusai menunaikan shalat subuh berjamaah dihari minggu disetiap pekannya adalah kerja bakti, yaitu dilingkungan Asrama dan lingkungan Salman, untuk Asrama putri diarea selasar hijau dan Asrama Putri sendiri, sedangkan untuk Asrama Putra, biasanya dibagi menjadi 2 bagian, sebagian nyapu diarea Salman dengan menggunakan sapu lidi, sebagian yang lain bersih-bersih Asrama, mulai dari lorong, dapur, ruang keluarga dan bahkan kamar mandi dan toilet yang harusnya megang sikat WC :D. Salah satu kehangatan terjadi saat usai kerja bakti makan-makan bareng, kadang ada kiriman dari Asrama Putri, kadang pula lari dan renang bareng. Uniknya, kalau selama di Asrama pada belum pernah pegang sapu lidi dan sikat WC? Pada kerja bakti dimana nih..? :D

 

  1. Ngangkat Karpet Nyiapin Ifthar

Nah, yang satu ini akan terasa saat nyiapin kajian yang paling kerap pelaksanaannya yang di emban oleh anak asrama, Kajian Ifthar, nama yang sudah tidak asing dibenak jamaah, karena salah satu yang menjadi penarik, selain mendapat ilmu, juga mendapatkan bungkusan penutup lapar, terutama para “shaumers” :D karena hanya ada setiap senin dan kamis. Sebagai anak asrama yang menjadi penanggungjawab untuk menyiapkan kajian ini. PJ yang bertugas pada hari itu harus menjadi inisiator untuk ngangkat karpet bareng-bareng dari GSG hingga TKP, ngangkat hijab, mic dan sound, bagi-bagi ta’jil dan makanan, hingga membereskan kembali.

 

  1. Gathering/Rapat Asrama

Selasa subuh, dari awal periode Asrama 2013-2014 hingga sekarang terpilih untuk agenda asrama yaitu Rapat Asrama, entah kenapa saat ini sering disebut sebagai acara Gathering (kebersamaan). Disinilah semua anak asrama (masing-masing) berkumpul, berbagi hangat saat dinginnya subuh menyengat, berbagi cerita saat hati tiada asa dan berbagi senyum walau jasad tak mampu mencangkum. Tegur sapa, kritik saran, saling bersahut sana kemari terjadi demi kebaikan program kerja Asrama pada setiap aspeknya. Demi kebersamaan, tugas unit, tugas kuliah bahkan ‘materi ijianpun’ menemani rapat itu. Ohh,,, Semoga Allah senantiasa memberkati kita semua. Amin…

 

  1. Kerja Bakti Bareng Warga

Asrama Salman yang terletak di JL Ganesha No. 7, RT 003 RW 004, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong. Asrama dengan letak strategis ini, seyogyanya bisa menjadi peningkat rasa syukur kita sebagai penghuni, yang tidak semua mahasiswa bisa menghuninya. Kelurahanpun bersebelahan, sehingga setiap 2 minggu sekali Anak Asrama selalu mendapatkan surat undangan dari kelurahan untuk ikut kerja bakti, yaitu bersih-bersih disepanjang Jalan Ciungmanara, Gelap Nyawang dan Skanda. Mulai dari bersih-bersih jalan, selokan bahkan taman-taman kecil yang ada disetiap pinggiran jalan.

Hanya saja, kesibukan anak asrama sebagai mahasiswa dan aktifis, terkadang menjadi alasan tak terbantahkan untuk ikut memegang sapu lidi menyapu area yang dirasa bukan miliknya, tangan kotor-kotoran dengan sampah, dll. Andai seperempat saja anak asrama (10 orang) turun tangan ikut bersama warga membersihkan jalan dan selokan, betapa senangnya mereka? 30 menit bukan waktu yang lama dibanding dengan searching internet yang berjam-jam kadang tak terasa. Adakah anak asrama yang selama tinggal di Asrama belum pernah turun tangan kejalanan bersama warga? Membersihkan jalan dan selokan? Jika ada, waktumu masih belum terlambat. J

 

  1. Ngambis Diruang Keluarga

Ruang keluarga adalah fasilitas asrama bagi penghuninya untuk acara kebersamaan. Canda tawa, cerita-cerita, nongkrong-nongkrong, nge-net gratis, makan-makan bahkan ngambis menyiapkan ujian sudah menjadi kebiasaan di ruangan ini. Ruangan dengan fasilitas Wi-fi gratis dengan menggunakan akses AI3 ini menjadi salah satu kegemaran anak asrama untuk betah diruangan ini, bahkan hampir setiap malam selalu saja ada yang ‘tertidur’ diruangan ini karena kecape-an belajar hingga subuh tiba. Terkadang acara bioskop-pun (alias nobar) sering digelar diruangan ini. Wah, seru juga ya? Tapi, masak ada sih anak asrama yang gak pernah ngumpul-ngumpul diruang keluarga? Enggak lah yah..? :D

 

  1. Ngangkat Galon

Yang terakhir nih, demi terpenuhinya kebutuhan primer anak Asrama yang berupa minum, dan semacamnya, maka dibutuhkanlah air galonan, karena hanya ini cara yang paling efektif. Hanya saja, sejak keperintahan Wiji Julian sebagai ketua Asrama, akhirnya asrama putra tidak lagi memesan air galon, akan tetapi melakukan “ISULASI” alias ISi ULAng SendirI :D. Beruntung sekali karena di Salman sendiri menyediakan isi ulang air mineral untuk jamaah, salah satunya adalah anak asrama. Nah, karena kebutuhan air setiap hari ada, maka dibuatlah jadwal ‘Angkat Galon’ dari bawah (lantai 1) hingga lantai 3, gak pakek gerobak, gak paket alat angkut, dan gak pakek Lift, tapi pakek Punggung. :D

Sudah hampir setahun program ini berjalan, lumayan bisa mengurangi pengeluaran Bendahara Asrama. :D. Hingga sekarang ada gak yah anak asrama yang belum nyicipin lezatnya ‘Angkat Galon’? Wah, kalau masih ada, ‘PARAH BEUUTT’ nih,,, Jangan sampai minum keringatnya saudara sendiri ya..? :D Just Kidding…

­­­­

Itulah kisah-kisah menarik Asrama yang bisa penulis tuturkan hari ini, semoga ini semua menjadi cerminan untuk kita sudah sampai mana kita berkontribusi? Sudah sejauh mana kebermanfaatan kita ada di Asrama? Dan agar saat kita bercermin, tidak ada rasa bangga dengan kelebihan kita, akan tetapi justru sebagai ‘pemerjelas’ bahwa kekurangan-kekurangan yang ada didalam diri kita, perlu kita benahi. Satu yang ingin penulis titipkan diakhir tulisan ini. “Kalaulah bukan karena kalian, tulisan ini tak kan ada gunanya…” J

Selamat menapaki indahnya masa depan Akhi, Ukhti… Amin…

 

Ditulis oleh Syaiful Bahri

Mahasiswa Teknik Tenaga Listrik ITB 2012

Asrama Putra Salman ITB